الاثنين، 7 يناير 2013

Leksikon Bias Jender



Tugas Bahasa Indonesia

“LEKSIKON BIAS JENDER DALAM KAMUS BAHASA ARAB
AL-MUNAWWIR (TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK)”


 





                                                                        Oleh :
v  Rachmadani
v  Hanisa
v  Mira Jayanti
v  Nabila A.
v  Melyana Aprilia
v  Asriani Tungga


JURUSAN SYARI’AH / MU
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAIN)
SULTAN QAIMUDDIN
KENDARI
2012
REVIEW JURNAL

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
        Bahasa merefleksikan pandangan masyarakatnya terhadap dunia sekitarnya. Selain itu, bahasa juga memberikan petunjuk tentang bagaimana cara masyarakat bersangkutan menganalisis dan mengkategorikan pengalaman. Perbedaan jumlah dan makna leksikon dari satu bahasa ke bahasa yang lain berkaitan erat dengan perbedaan cara pandang masyarakat penutur bahasa yang bersangkutan dalam ranah yang dimaksud. Pemeriksaan leksikon pada ranah tertentu dalam suatu bahasa dapat mengungkapkan beberapa aspek yang berkaitan dengan cara pandang dan budaya penuturnya terhadap dunia luar.

1.2  Rumusan Masalah
a.       Bagaimana hubungan leksikon bias jender dengan cara pandang masyarakat Arab terhadapnya?
b.      Apa saja faktor yang melatarbelakangi cara pandang mereka terhadap masalah bias jender?

1.3  Tujuan Penelitian
a.       Untuk memberikan deskripsi singkat mengenai hubungan leksikon bias jender dengan cara pandang masyarakat Arab terhadap persoalan jender.
b.      Untuk memberikan penjelasan lebih rinci tentang faktor-faktor yang mempengaruhi cara pandang mereka terhadap leksikon bias jender.

1.4  Manfaat Penelitian
        Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca, sehingga dapat dipahami bahwa kaitan antara bahasa, budaya, dan pandangan hidup sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Demikian pula, leksikon bahasa dapat mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat.

1.5  Teori Terkait
        Menurut Boas (1964), bahasa merupakan manifestasi paling penting dari kehidupan mental penuturnya.
        Hipotesis Sapir-Whorf (Sampson, 1980: 80-102), menyatakan bahwa bahasa membentuk persepsi manusia terhadap dunia realitas.
        Menurut Van Humboldt (Dardjowidjojo, 2005: 287), manusia pada awalnya memang menggunakan fikiran mereka untuk mengkategorikan dunia dan mencantumkannya dalam bahasa, tetapi begitu bahasa terbentuk, manusia menjadi terikat oleh apa yang mereka ciptakan sendiri.
        Sapir (1964) mengatakan bahwa bahasa akan sangat berbeda ditinjau dari segi kosa kata- nya.
        Wierzbicka (1997) mengatakan bahwa ada hubungan yang sanga erat antara kehidupan suatu masyarakat dengan leksikon bahasanya.

1.6  Metodologi Penelitian
        Data penelitian ini, diperoleh lewat penyimakan Kamus al-Munawwir Arab Indonesia Terlengkap Tahun 1997, Cetakan ke-14, Edisi Kedua, Terbitan Pustaka Progresif Surabaya, terutama pada data-data bias jender dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Seluruh data yang telah diperoleh kemudian diklasifikasi berdasarkan kategori ranah bias jender dan selanjutnya disajikan.


BAB II PEMBAHASAN
2.1 Bias Jender
              Bias jender adalah perlakuan tidak seimbang antara kosa kata laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara biologis dan sosial budaya. Jender dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah muzakkar dan muannas. Muzakkar adalah kata yang mengacu pada sesuatu yang berjenis kelamin laki-laki atau yang dianggap laki-laki. Muannas adalah kata yang mengacu pada sesuatu yang berjenis kelamin perempuan atau yang dianggap perempuan.
      Keberadaan bentuk jender dalam bahasa Arab disebabkan karena masyarakat pada masanya membedakan kategori jender dengan cara menciptakan oposisi biner untuk semua jenis kata, yaitu maskulin dan feminin. Secara bentuk, pembagian ranah kosa kata itu diperlakukan secara morfologis dan semantis. Secara morfologis, kosa kata itu diperlakukan dengan mengklasifikasi data-data yang menunjukkan jender feminin. Secara semantis, kosa kata tersebut akan diklasifikasi sesuai jenis bias jender  baik secara biologis maupun secara budaya.
              Jenis kosa kata bias jender secara biologis berhubungan dengan penggambaran tubuh laki-laki dan perempuan secara umum. Karenanya, anggota tubuh ini diklasifikasi menjadi dua, yaitu ranah alat kelamin dan ranah payudara. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat penutur bahasa Arab memang sangat akrab dengannya. Kosa kata semacam ini mempunyai hubungan dengan budaya Arab yang sangat merendahkan wanita dan hanya menjadikannya sebagai pemuas nafsu birahi.
              Jenis kosa kata bias jender secara sosial budaya dikalangan masyarakat Arab, ada perlakuan yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dianggap utama sedangkan perempuan sebagai pelengkap. Pelengkap dalam hal ini dapat berarti bahwa ia akan digunakan ketika dibutuhkan saja. Fenomena kosa kata ini, menunjukkan bahwa peranan perempuan dalam masyarakat Arab tidak terlalu signifikan dan bahkan mendapatkan tempat yang tidak terhormat sebagaimana kaum laki-laki.

2.2 Cara Pandang Masyarakat Arab Terhadap Persoalan Maskulin
      1) Segregasi Jender Feminin dan Maskulin
              Konsep segregasi terletak pada pembedaan bentuk kata maskulin dan feminin yang ditandai dengan penanda-penanda khusus dan harf ‘illah’. Selain itu, penanda-penanda khusus itu kemudian diklasifikasi kembali menjadi satuan yang sangat mendetail, yaitu adanya bentuk maskulin dan feminin secara hakiki dan majazi. Hal ini mengindikasikan bahwa laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Arab ditempatkan dan dilihat sebagai sosok yang sangat berbeda, bahkan harus dipisahkan.
      2) Eksploitasi Jender Feminin
              Eksploitasi kaum lelaki terhadap kaum perempuan dalam masyarakat Arab tampak jelas terlihat pada penggambaran alat kelamin secara rinci. Bagi masyarakat Arab, perempuan hanya dijadikan sebagai simbol kesenangan terutama dalam berhubungan seks sehingga dapat dieksploitasi sesuka hati.


      3) Viktimasi Jender Feminin
              Viktimasi terhadap kaum perempuan juga ditemukan dalam kosa kata bias jender. Kaum perempuan seringkali dijadikan korban dan kekerasan seksual. Kosa kata mengenai ranah alat kelamin perempuan dan pemelacuran menjadi bukti bahwa perempuan merupakan korban kekerasan seksual.
      4) Marjinaliasi Jender Feminin
              Dominasi kaum laki-laki atas perempuan tercermin dalam kosa kata bahasa yang menjadikan bentuk maskulin sebagai bentuk dasar dan bentuk feminin haruslah diberi penanda sebagai pembeda. Penanda yang pada umumnya berbentuk sufiks ini menunjukkan adanya indikasi usaha pemarjinalan perempuan dengan menempatkan dan menggesernya pda posisi kedua.
      5) Domestisasi Jender Feminin
              Konsep domestisasi juga sangat jelas tergambar dalam hal-hal yang berhubungan dengan urusan rumah tangga. Misalnya, kata muchshanah di surah 8 dalam al-qur’an yang berasal dari kata “achshana” yang berarti menjaga dan memelihara. Yang dinyatakan  bukan “muchshinah”, dalam bentuk ism fa’il, yang berarti wanita yang memelihara, tetapi yang dinyatakan adalah Muchshanah, dalam bentuk ism maf’ul, yang berarti yang dipelihara dan dijaga. Hal ini dimaksudkan pada wanita yang telah bersuami yang artinya wanita yang dipelihara dan dijaga, dan yang bertugas memelihara serta menjaganya adalah laki-laki sebagai suami.

2.3 Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Munculnya Leksikon Bias Jender
      1) Budaya Patriarki
              Dalam budaya patriarki, semua bidang kehidupan mulai dari politik, sosial, budaya dan ekonomi, hukum, pendidikan, dan agama senantiasa dikuasai oleh laki-laki. Sebaliknya, keberadaan perempuan sangat diperhitungkan sama sekali. Jadi hegemoni budaya patriarki masyarakat Arab tentu saja tercermin dalam sistem leksikon bahasanya.
      2) Stratifikasi Sosial
              Dikalangan masyarakat Arab dikenal tiga kelompok sosial, yaitu bangsawan, mawali dan budak. Selain itu, struktur sosial masyarakat Arab didasarkan pula atas usia dan jenis kelamin. Dalam hal ini, laki-laki menduduki posisi primer sedangkan perempuan menduduki posisi sekunder. Kuatnya hubungan patriarki dalam masyarakat Arab telah membuat perempuan terdiskriminasi dan menjadikannya sebagai korban penindasan. Akibatnya, perkembangan mental perempuan sering terhambat sehingga tidak mampu melepaskan diri dari sikap pasif dan biasa bergantung pada orang lain. Disinilah letak alasan mengapa leksikon perempuan yang berhubungan dengan daya nalar sangat kurang, dibanding dengan laki-laki.
      3) Kekerabatan
               Sistem kekeluargaan masyarakat Arab pra Islam dan awal Islam dibedakan atas lima bentuk, yaitu kabilah, subkabilah, suku, keluarga luas dan keluarga inti. Kabilah dan subkabilah menghuni daerah padang pasir, keluarga inti menghuni daerah yang berdekatan dengan laut, pantai timur dan selatan, sedangkan daerah-daerah penyangga dipinggiran padang pasir dihuni oleh keluarga luas. Secara umum, kelima bentuk struktur tersebut memiliki dua ciri sistem kekerabatan yaitu ketentuan yang berhubungan dengan tempat tinggal dan ketentuan yang berhubungan dengan keturunan.


BAB III PENUTUP
3.1 Kelebihan
              Jurnal ini dilengkapi dengan tujuan dan metodologi penelitian serta teori tekait, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami maksud dibuatnya tulisan ini dan secara jelas ditulis sumber data yang diperoleh.
3.2 Kekurangan
              Kami tidak menemukan kekurangan didalam jurnal ini.
     
     

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق